Thursday, October 06, 2005

Hari I

seperti biasanya melihat cakrawala
tak ada merpati
pun itik
detik detik jadi asap
musnah dalam riak jemari yang menari
melenguhkan mimpi..

hujan yang turun sebentaran
menyapa hari pertama ramadhan
meresapkan minus celcius
ditulang sumsumku
lalu aku menunda wudlhu
menunda waktu bertemu Mu..

Ba’dha maghrib
Bersama karib
bocah-bocah yang berseliweran tak tertib
“om.. buat makan om…”
dan tangan mungil itu terus tengadah
tak kenal lelah..
jalan baru saja diawalnya
masih beribu masa lagi
sebelum sampai pada Mu

Hari I

seperti biasanya melihat cakrawala
tak ada merpati
pun itik
detik detik jadi asap
musnah dalam riak jemari yang menari
melenguhkan mimpi..

hujan yang turun sebentaran
menyapa hari pertama ramadhan
meresapkan minus celcius
ditulang sumsumku
lalu aku menunda wudlhu
menunda waktu bertemu Mu..

Ba’dha maghrib
Bersama karib
bocahbocah yang berseliweran tak tertib
“om.. buat makan om…”
dan tangan mungil itu terus tengadah
tak kenal lelah..
jalan baru saja diawalnya
masih beribu masa lagi
sebelum sampai pada Mu

Tuesday, May 17, 2005

MEMBAYANGI BAYANG MU

kala kelopak mata menjerit
didera kantuk sedikit sedikit
sepi membawa hening
diruang penuh kancing

imaji tentang suara sebening embun
diseruput makhluk bertanduk rimbun

raga bergelimpang benda
nafas berkalung wasangka
pada tembok berderit
hendak menjepit
nyawa susut dikuras asa setinggi langit


Januari 2004

TERPERANGKAP

hidupku di gurun tak berbilang
tahun
matahari bersinar memanggang
bumi.
aku merangkak dalam sendiri

melangkah di jalan yang tak bertepi
berlindung pada bayang
tak mampu berteriak lantang

kadang kudengar suara nafiri
menyeruku tuk menghampiri
sayang hanya gema yang hampa

kutemui bulir-bulir pasir
yang diam bergerak hingga titik nadir
menyertai setiap tarikan nafas
nyaris tanpa batas


2000

Wednesday, May 04, 2005

ASMARA KAMBOJA

berapa lamakah tiga tahun;
sesungging senyuman

dulu aku mengantar mu
kini aku menemui mu

hidup ini kamboja
meneduhi kita
bersua Allah


karet tengsin Januari 2004

LAYUNYA ROSA

dan bersama putaran waktu
sekuntum rosa merekah lalu layu
kelopaknya gugur satusatu
diterbangkan angin hingga akhirnya
mencumbu tanah
tempat segalanya remah

dan bersama putaran waktu
sekuntum rosa noktah yang merdeka
juga terbelenggu
pada asa hitam putih dan abuabu

atas pilihannya sendiri
perguliran hari cuma peralihan
dari satu ke lain mimpi

ia enggan meminta hidup seribu tahun lamanya
lantaran tak tahu hendak kemana dan untuk apa


Jakarta Desember 2002

Thursday, April 28, 2005

RENUNGAN JENDELA PATAS AC 03

sudahkah kita tunduk kepala
sujudkan jiwa dihadapan
sang Pencipta

kalam Illahi bersipogang di cakrawala
dicecahkannya sebagai petunjuk
agar tak terpuruk

mengapa tak kita baca ?

aku dan kau asyik sendiri
mencari ruang, kursi dan
bidadari

dunia bukan milik seorang
kalau kita terbang
mereka berhak melayang

kita kencingi diri setiap hari
dan tetap merasa seharum melati.


Mei ' 1999

EPISODE AKHIR

detak jam dinding antar ku rebahkan jiwa
yang kemuning di mamah senja
dan langkah semakin bertambah tinggalkan jejak di buku fana
ada yang nyata namun selebihnya musnah diberangus masa
bayang bersemayam di wajah
memahatnya hingga putih kapas
entah kapan kau datang memelukku
detik ke detik semakin mendekatlah
bila tiba ia...
semoga aku sedang mencumbumu saat itu.



January 22, 2003

Wednesday, April 27, 2005

MULA KATA

Ijin kan aku mengucapkan salam
dan terima kasih pada Ati yang
dengan ikhlasnya telah menghibahkan
ruang ini untuk ku

Memberiku 'tanah' untuk ku olah
tempat menanam rindu, gulana, asa
dan semoga juga cinta
pada siapa saja yang sudi beranjangsana
membaca...
lalu menafsir
lalu mendedahkan pada ku setetes air

Mungkin sekali tak kan anda temui
keindahan di dalam sini
barangkali ini cuma tong sampah
tempat hilir segala sumpah serapah

Tapi inilah aku
yang seperti juga diri mu
berjuang melukis makna pada lorong waktu
dan mengetahui rahasia penciptaan ku

ALLAH ampuni aku....